Langsung ke konten
Kalkumi
Buka menu

Harga Pokok Produksi: Rumus, Komponen, dan Contoh Perhitungannya

Cara menghitung harga pokok produksi dari bahan baku, tenaga kerja, dan overhead, dengan contoh usaha konveksi dan bedanya dengan HPP penjualan.

Diperbarui · Tim Kalkumi

Pengertian Harga Pokok Produksi

Harga pokok produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi dalam satu periode. Istilah ini dipakai oleh usaha yang memproduksi sendiri, seperti konveksi, mebel, bakery, atau pabrik makanan.

Harga pokok produksi berbeda dengan harga pokok penjualan. Harga pokok produksi menghitung biaya untuk barang yang dibuat, sedangkan harga pokok penjualan menghitung biaya untuk barang yang terjual. Keduanya sering sama-sama disingkat HPP.

Komponen Harga Pokok Produksi

  1. Biaya bahan baku langsung (BBB): bahan utama yang menjadi bagian dari produk. Contoh: kain untuk kaos, kayu untuk meja, tepung untuk roti.
  2. Biaya tenaga kerja langsung (BTKL): upah orang yang langsung mengerjakan produk. Contoh: penjahit, tukang kayu, pembuat roti.
  3. Biaya overhead pabrik (BOP): biaya produksi lain yang tidak bisa langsung dihubungkan ke satu produk. Contoh: listrik mesin, penyusutan alat, bahan penolong seperti benang, sewa ruang produksi, gaji mandor.

Rumus Harga Pokok Produksi

Bahan baku terpakai = Persediaan bahan awal + Pembelian bahan − Persediaan bahan akhir
Total biaya produksi = Bahan baku terpakai + BTKL + BOP
Harga pokok produksi = Total biaya produksi + Barang dalam proses awal − Barang dalam proses akhir

Barang dalam proses (BDP) adalah produk yang sudah mulai dikerjakan tapi belum selesai di akhir periode.

Contoh Cara Menghitung Harga Pokok Produksi

Usaha konveksi kaos, data satu bulan:

1. Bahan baku terpakai

Nilai
Persediaan kain awalRp8.000.000
Pembelian kainRp30.000.000
Persediaan kain akhir(Rp6.000.000)
Bahan baku terpakaiRp32.000.000

2. Tenaga kerja langsung: 4 penjahit × Rp3.000.000 = Rp12.000.000

3. Overhead pabrik

Nilai
Listrik mesin jahitRp1.500.000
Penyusutan mesinRp1.000.000
Benang, label, dan aksesoriRp2.500.000
Sewa ruang produksiRp3.000.000
Total BOPRp8.000.000

4. Hitung harga pokok produksi

Total biaya produksi = 32.000.000 + 12.000.000 + 8.000.000 = Rp52.000.000
Harga pokok produksi = 52.000.000 + 2.000.000 (BDP awal) − 4.000.000 (BDP akhir)
                     = Rp50.000.000

Bulan itu konveksi menyelesaikan 2.000 kaos, jadi harga pokok produksi per kaos = Rp50.000.000 ÷ 2.000 = Rp25.000.

Dari Harga Pokok Produksi ke Harga Pokok Penjualan

Tidak semua kaos yang selesai langsung terjual. Untuk laporan laba rugi, hitung harga pokok penjualan:

HPP penjualan = Persediaan barang jadi awal + Harga pokok produksi − Persediaan barang jadi akhir

Jika persediaan kaos jadi di awal bulan Rp5.000.000 dan di akhir bulan Rp7.500.000:

HPP penjualan = 5.000.000 + 50.000.000 − 7.500.000 = Rp47.500.000

Full Costing dan Variable Costing

  • Full costing memasukkan semua BOP, baik tetap (sewa, penyusutan) maupun variabel (listrik mesin, benang). Contoh di atas memakai metode ini, dan metode ini yang dipakai untuk laporan keuangan.
  • Variable costing hanya memasukkan BOP variabel. Biaya tetap diperlakukan sebagai beban periode. Metode ini berguna untuk analisis harga dan break even point.

Versi Praktis untuk UMKM

Usaha kecil yang memproduksi setiap hari tidak perlu menyusun laporan lengkap setiap bulan. Untuk menentukan harga jual, cukup hitung biaya per batch: bahan yang dipakai, kemasan, dan biaya produksi, lalu bagi dengan jumlah produk yang dihasilkan.

Kalkulator HPPHitung HPP per porsi atau per unit dari satu kali produksi.

Untuk usaha yang membeli lalu menjual kembali barang (bukan memproduksi), rumusnya berbeda. Lihat rumus HPP perusahaan dagang.